Oleh: Milla Joesoef*

Antitesa.com – Sejak 1981, para aktivis perempuan telah menjadikan 25 November sebagai hari berlawan terhadap kekerasan berbasis gender. Tanggal ini dipilih sebagai wujud hormat, sebuah peringatan, pengingat terhadap Mirabal Bersaudari (Patria Mercedez Mirabal, Minerva Mirabal, dan Maria Teresa Mirabal) yang dibunuh pada 25 November 1960. Perjuangan mereka tak sekadar perjuangan melawan kekerasan terhadap perempuan, melainkan juga perjuangan politik, keadilan, dan demokrasi melawan kebrutalan rezim Rafael Trujillo atau “El Jefe” (The Bos), Presiden Republik Dominika pada saat itu.

Presiden yang karirnya dimulai sebagai seorang informan dan germo bagi A.S ini, merupakan seorang presiden diktator, fasis, otoriter, banyak menguasai industri, korup, represif dan gemar melecehkan perempuan.

Keluarga Mirabal tergolong keluarga terpandang, pengusaha kaya dan memiliki pendidikan yang baik.

Pada 12 Oktober 1949 (Indonesia baru merdeka 4 tahun ya kala itu), Trujillo mengadakan pesta peringatan ditemukannya Benua Amerika oleh Cristobal Colon (Christopher Columbus), dan keluarga Mirabal pun diundang.

Di sana Trujillo gagal merayu satu diantara Las Mariposas (Mirabal Bersaudari), Minerva. Kontan Trujillo pun berang bukan main. Teror terhadap keluarga Mirabal dan teman-teman dekat keluarga itu pun bermula mulai dari ancaman-ancaman, kekerasan dan penangkapan pun dilakukan. Ayah dari Mirabal Bersaudari pun akhirnya meninggal pada 1953.

Minerva Mirabal kemudian memutuskan diri untuk bergabung dalam gerakan bawah tanah untuk menggulingkan El Jefe. Kesadarannya timbul di masa-masa ia bersekolah di Colegio Inmaculada Concepción. Dia mengorganisir teman-temannya yang keluarganya juga merupakan korban dari El Jefe, baik itu yang menghilang, disiksa, dibunuh, ditahan oleh rezim Trujillo. 

Dia banyak membaca literatur-literatur kiri, radio-radio di kanal ilegal dari Kuba dan Venezuela, lalu Maria Teresa pun turut serta dalam perjuangannya.

Patria sendiri, bersama-sama dengan suaminya menyediakan tempat bagi konsolidasi-konsolidasi gerakan saudari-saudarinya. Patria turut mendukung dan berjuang dengan pertimbangannya akan masa depan anak-anaknya dan berujar: “Kita tak boleh biarkan anak kita hidup di bawah rezim yang korup dan tiran, kita harus berjuang melawannya, dan saya siap memberikan segalanya, termasuk jiwa saya jika perlu”. 

Mirabal Bersaudari sadar betul akan resiko dari mereka berlawan. Seperti yang pernah dinyatakan juga oleh Minerva: “Mungkin yang begitu dekat dan harus kami hadapi adalah kematian, tetapi hal itu tidak membuat kami takut, kami harus melanjutkan perjuangan untuk sesuatu yang baru saja dimulai.” 

Singkat cerita, nyatalah Mirabal Bersaudari ini dibunuh oleh rezim Trujillo. Pembunuhan terhadap Mirabal Bersaudari itu tentu menyulut kemarahan rakyat Dominika yang juga menjadi awal bagi kejatuhan rezim Trujillo. El Jefe lalu dibunuh setahun berikutnya setelah dibunuhnya Mirabal bersaudari (30 Mei 1961). Las Mariposas pun menjadi simbol dari perlawanan terhadap kediktatoran Trujillo dan selamanya mereka menjadi simbol perjuangan kaum perempuan di negeri-negeri Amerika Latin bahkan dunia.

Perjuangan Las Mariposas jelaslah penuh resiko, dan kematian bisa dikatakan merupakan ancaman yang amat pasti. Namun, mereka tak lantas mundur atau urung berjuang. Suluh menyulut, api dari Las Mariposas mesti kita jaga agar kita semua menjadi para pewaris api dari Mirabal Bersaudari.

*DPK SULUH PEREMPUAN SUKABUMI

Share this: