oleh Achmad Zaini Takbir ~ Ketua Organisasi Sukarelawan Montana

Seiring dengan dilaksanakannya FGD (Focus Group Discussion) ke-2 yang dihadiri beberapa stakeholder (pemerintah, akademisi, komunitas, media), muncul berbagai penolakan di kalangan masyarakat Cianjur sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGPP).

Meski tahapan pengembangan proyek Geothermal Gede Pangrango ini baru memasuki tahap sosialisasi, dan kajian dari Balitbang Kementerian ESDM, tetapi masyarakat sudah mulai antusias untuk membahas dampak dari pengembangan proyek energi panas bumi di kawasan TNGGP ini.

Positif atau Negatif?

Tidak dapat dipungkiri, upaya pemerintah dalam proses transisi energi berbasis fosil ke renewable energy, patut mendapat dukungan. Namun, tetap perlu dipertimbangkan, juga didiskusikan lebih lanjut, seperti apa dampak dari pengembangan energi panas bumi ini.

Pertanyaan pentingnya, apakah geothermal ini merupakan sumber enegi yang benar-benar bersih dan aman? Ini perlu untuk dijawab, mengingat masih sedikitnya pengetahuan masyarakat soal ini.

Di samping itu, soal pengembangan Geothermal yang dilakukan di dalam kawasan TNGGP menjadi problem selanjutnya.

Fyi. TNGGP merupakan kawasan konservasi dengan ekosistem yang masih asli. Ini menjadi penyangga kehidupan di wilayah sekitarnya. Potensi flora dan fauna yang cukup besar juga ada di sini. Bahkan, pada 1997, TNGGP ditetapkan sebagai Cagar Biosfer Dunia oleh UNESCO.

Dengan statusnya sebagai cagar biosfer dunia, kiranya cukup alasan untuk kembali mepertimbangkan proyek geothermal di dalam kawasan ini.

Pusat Kegiatan Sosial Ekonomi Masyarakat

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, selain di dalamnya terdapat ekosistem penyangga kehidupan wilayah sekitar, juga menjadi pusat aktivitas sosial ekonomi masyarakat. Ini menjadi pusat pendidikan, menjadi sumber ekonomi bagi masyarakat sekitar dengan potensi pariwisatanya yang cukup terkenal.

Selain itu, di wilayah ini juga terdapat potensi hidrologi yang sangat besar. TNGGP merupakan hulu dari 4 DAS besar (Cimandiri, Ciliwung, Cisadane, Citarum) di mana 60 sungainya merupakan bagian dari pemasok air bagi 4 PLTA yang ada, PLTA Cimandiri, Cirata, Saguling, dan juga Jatiluhur.

Apakah pengembangan Geothermal di kawasan Gede Pangrango akan tetap menjamin ketersediaan pasokan air? terutama untuk PLTA Cirata, PLTA Saguling, dan PLTA Jatiluhur?

Ini perlu kajian lebih serius. Sebab, seperti kita ketahui, di beberapa tempat, potensi air permukaan bisa berkurang secara drastis akibat dari konversi lahan. Tidak terkecuali konversi lahan dalam pengembangan proyek Geothermal.

Share this: