Antitesa.com – Kontestasi liberal memang kejam. Mereka yang terlibat dan dilibatkan di sana, seolah memiliki privilese buat saling gontok-gontokan. Saling menjatuhkan dengan cara paling barbar sekalipun. Asal kekuasaan bisa direbut.

Saya cuma geli aja. Boleh kan saya geli? Para haters Ahok menyerangnya dengan seksama lewat isu SARA. Itu katanya karena Ahok dengan slenge’annya sok-sokan jadi tukang tafsir Quran Surat Al Maidah 51.

Dan dunia maya, seperti biasa, sontak menjadi riuh. Keriuhan yang kemudian merembet ke dunia nyata. Ribuan orang berjubah putih, tumplek blek diberbagai kota; turun ke jalan, menuntut supaya Ahok dipenjarakan karena tafsir surat Al Maidahnya yang ganjen itu. Ya salaam…

Akhir-akhir ini bangsa kita memang mudah tersulut emosinya. Dikit-dikit ngambek, dikit-dikit ngambek. Ngambek kok dikit-dikit ?

Saya sih bukan pendukung Ahok. Apalagi pemilih. Karena saya orang Garut, so itu tidak bakal mungkin terjadi, sodare-sodare.

Kegelian saya semakin bertambah aja ketika senyampang kemudian sempat muncul petisi bubarkan MUI. Kabar-kaburnya Jokowi yang bikin wacana. Entah benar entah tidak. Yang jelas sih saya nggak percaya begitu saja.

Jiahh … jangankan MUI, FPI aja ga bakal bisa lo bubarin ! Lagipula, apa iya Jokowi berani bubarkan MUI ditengah situasi genting begini ?

Kita musti belajar pada warga London, soal bagaimana cara mereka memosisikan agama saat berpolitik. Mereka memilih Shadiq Khan bukan karena asal-usul subjektifnya.

Tapi karena memang secara programatik ia dapat diterima publik London. Siapapun lawannya. Mereka objektif. Masak Orang kafir aja bisa, kok kaum beriman nggak bisa?

Pemimpin, calon pemimpin dan warganya belum secerdas publik London.

Shadiq khan awalnya bernasib sama dengan Ahok. Dibully lawan politik karena asal-usulnya. Tapi warga London itu cerdas. Mereka tidak terpengaruh.

Dan akhirnya Khan berhasil naik ke tampuk kepemimpinan politik tertinggi kota London. Mungkin ini sejarah baru, di mana mayoritas bisa tunduk pada kepemimpinan objektif minoritas.

Ahok itu sebetulnya, jujur nih, masih belum pas kalo disebut Gubernur yang pro-rakyat. Dengan alasan demi ketertiban, keamanan, kenyamanan, kesempurnaan cinta…. Kampung-kampung digusur.

Padahal itu tanah negara. Dan yang digusur itu warga negara. Ya berhak lah mereka tinggal disitu ? Memangnya negara ini milik Ahok ? Bukan, lah. Ini negara milik rakyat. Karenanya, biarkanlah tanah itu mereka tinggali. Karena mereka pemilik negara ini.

Secara objektif, kritik saya itu. Soal dia non-muslim, soal dia penista agama, hmm… itu persoalan subjektif. Picik sekali jika saya masuki ranah itu.

Ya itulah Indonesia. Pemimpin, calon pemimpin dan warganya belum secerdas publik London. Terpilih nggaknya ya bukan urusan saya. Karena itu pula, kalau Ahok saja nggak layak dipilih, apalagi lawan-lawannya ?

Jadi, kalau antum semua pengen cari pemimpin muslim yang baik, ya mari kita Hijrah ke London. Changcuters itu sudah jauh-jauh hari ajak kita hijrah ke sana, kok.

Share this: